Draft: Summary of Workshop Results
Sorry friends, this draft is written in Indonesian. This note is the technical summary and recommendations from our workshop to PT Semen Padang on how to develop the factory as a museum and a cultural center/ a center for public activities just like we planned. But the thing is that these recommendations and plans were drafted before the mighty earthquake hit West Sumatera. Even though that the factory is not heavily damaged, but I think we should now think broader on what’s best to recommend to the factory. As the part of our obligation to PT Semen Padang, I am still working on the summary of the design/ workshop results to be formally submitted to the company. But I suggest that we begin to discuss about the possibilities of impact and linkage between our previous plans and the aftermath of the quake. I think we will rely Eko Alvares’ report on the situation and the coordinations our friends had done in Padang before we can connect and collect efforts.
mAAN Design Workshop: The Great Padang Cement Factory Revitalization Workshop 2009
Rangkuman Pasca Workshop
Dikompilasi oleh: Setiadi Sopandi, Ketua Panitia mAAN Design Workshop 2009, 19 Oktober 2009
===
Daftar Isi
I.
Rekomendasi Pasca-Workshop untuk PT Semen Padang dalam Rangka Revitalisasi Indarung 1 (30 September 2009)
II.
Rekomendasi teknis tambahan pasca 31 September 2009
III.
Penjelasan khusus mengenai hasil-hasil mAAN Design Workshop 2009
Proposal Unit 1
Proposal Unit 2
Proposal Unit 3
Proposal Unit 4
Proposal Unit 5
Proposal Unit 6
Proposal Unit 7
Proposal Unit 8
Proposal Unit 9
IV.
Rangkuman teknis umum mengenai hasil-hasil mAAN Design Workshop 2009
I.
Rekomendasi Pasca-Workshop untuk PT Semen Padang dalam Rangka Revitalisasi Indarung 1
Post-Workshop Recommendation for PT SP about Indarung 1 Revitalization Initiative
1.
mAAN memohon PTSP untuk menyelesaikan duduk persoalan proyek rancangan museum terdahulu yang ditangani oleh PT. Wiratman & Associates untuk menghindari pelanggaran kode etik professional.
mAAN recommends PTSP to clarify the previous museum design project between PT Wiratman & Associates with PTSP to avoid violation of professional code of ethics.
2.
mAAN merekomendasikan PTSP untuk segera menyusun dan mensahkan kepanitiaan yang akan bekerja menyusun rencana kerja upaya revitalisasi Indarung 1. Kepanitiaan sebaiknya dibentuk dalam penugasan yang jelas, spesifik dan kontrak kerja perorangan yang professional.
mAAN recommends PTSP to establish and to appoint a special committee who will compose the plans of indarung 1 revitalization works. The committee should be appointed with a clear, specific, and professional individual engagements/ contracts.
2.A.
Kepanitiaan yang dibentuk akan bekerja sampai dengan Maret 2010 dengan tugas utama untuk membentuk program kerja jangka panjang dan legalitas perangkat kerja.
The committee will work until March 2010 with its main task to establish long-term programs and legal working standings.
2.B.
Kepanitiaan yang dibentuk merekomendasikan upaya-upaya strategis yang harus dilakukan dan bekerja sama dengan pihak professional yang ditunjuk untuk perayaan 100 Tahun PT Semen Padang pada Maret 2010.
The committee will recommend strategic efforts should be made and coordinate with the appointed professionals for the centennial commemoration of the factory.
3.
Indarung 1 akan diarahkan menjadi sebuah pusat kesenian dan kebudayaan baru di Sumatera Barat. Untuk itu penting untuk menekankan pengertian kepada pihak PTSP bahwa usaha revitalisasi Indarung 1 bukan merupakan kegiatan renovasi dan pekerjaan fisik sementara semata. Tetapi merupakan usaha berkelanjutan yang membutuhkan dukungan dan perhatian yang berkelanjutan dari pihak PTSP sebagai pembina fasilitas tersebut.
Indarung 1 is projected to be a new arts and cultural center in West Sumatera. Therefore it is important to stress that Indarung 1 Revitalization is not simply a renovation and temporary physical restoration. But it is also a continuous effort that needs continuous support and attention from PTSP as the owner of the facility.
4.
Berdasarkan butir 3, mAAN merekomendasikan PTSP untuk membentuk/ menugaskan sebuah badan hukum yang akan mengambil tanggung jawab mandiri sebagai pengelola kawasan Indarung 1 untuk jangka panjang. Misalnya sebuah yayasan atau sebuah anak perusahaan.
Based on the 3rd point, mAAN recommends PTSP to establish/ to appoint a legal body who will manage the Indarung 1 site development for the long run. For example; to set up a foundation (non-profit body) or an independent company (private limited).
5.
mAAN merekomendasikan agar PTSP agar sedapat mungkin senantiasa menggunakan Indarung 1 sebagai tempat untuk menyelenggarakan acara-acara seremonial maupun umum/ sosial, untuk mempromosikan Indarung 1 sebagai sebuah pusat kegiatan sosial budaya baru.
mAAN recommends PTSP to regularly use the old factory site for any ceremonial and public/ social events, to promote Indarung 1 as a new center for social cultural activities.
6.
mAAN akan memberikan kesimpulan umum yang diambil dari 9 proposal hasil workshop. Kesimpulan umum tersebut akan berfungsi sebagai anjuran bagi berbagai keputusan yang akan diambil pada langkah-langkah selanjutnya.
mAAN will release a general summary taken from the 9 proposals produced by the workshop. The general summary will function as a recommendation for all decisions to be made in the future.
Penjelasan khusus mengenai hasil-hasil mAAN Design Workshop 2009
Unit 1: Tsuto Sakamoto
Proposal Unit 1 mengusulkan 7 titik dalam Indarung 1 dikembangkan sebagai pusat atraksi yang dihubungkan dalam rangkaian sirkulasi kawasan. Titik-titik tersebut adalah antara lain:
1. Gerbang masuk utama (di bagian paling utara)
2. Kolam pancing (di bagian barat, tepat lahan terbuka tempat jalur pasokan air)
3. Museum (kawasan pabrik tua)
4. Plasa/ pelataran utama (lapangan terbuka di tengah pabrik tua)
5. Kebun/ area cocok tanam (farm land, di kawasan parkir sebelah gallery)
6. Kebun obat/ bumbu (herb garden, di sudut paling selatan)
7. Area aktivitas olah raga (di kawasan terbuka paling selatan, yang menghadap ke Kota Padang)
Usulan Unit 1 terhadap konsep museum semen adalah (1) melestarikan bagian pabrik tua dan merehabilitasi (memperbaiki dan membuat baru) akses orang ke dalam kawasan pabrik tanpa merubah atau mengembalikan kondisi awal pabrik, (2) mengembangkan 2 ruang ’terbuka’ dalam pabrik tua sebagai ’secret garden’, (3) merekomendasikan pembuatan galeri/ jalur sirkulasi di atas 2 buah kiln utama sebagai ’viewing gallery’.
Jadi ’museum’ Indarung 1, menurut Unit 1, tidak akan hanya berupa sebuah museum konvensional namun juga merupakan sebuah museum terbuka berupa sebuah pabrik bersejarah yang dipertahankan. Namun pabrik tua tersebut tidak seutuhnya harus dipertahankan seperti apa adanya, namun diperbolehkan untuk dikembangkan. Secret garden yang dimaksud adalah berupa pengembangan ruang dalam pabrik yang cukup besar untuk ditanami dengan tanaman-tanaman hias maupun sayur, yang berguna sebagai tempat bersantai, duduk-duduk sekaligus juga sebagai atraksi visual. Sehingga, selain sebuah tempat yang didedikasikan untuk menyebarkan informasi mengenai semen dan sejarah produksi semen, proposal Unit 1 ini juga sangat tepat diterapkan apabila Indarung 1 akan dikembangkan lebih jauh untuk dapat berperan sebagai sebuah pusat informasi dan promosi (bahkan penelitian) pengembangan agroindustri. Bentuk-bentuk program yang dapat dikembangkan, antara lain: nursery (tempat pembibitan dan penjualan tanaman), kebun percobaan, kebun produksi, dan lain-lain.
Unit 2: Adi Purnomo
Proposal Unit 2 dititikberatkan pada penataan keberadaan dan alur air yang berada di Indarung 1. Prinsip utama proposal Unit 2 adalah memanfaatkan keberadaan air untuk mengembalikan vitalitas kawasan dengan berbagai macam bentuk dan potensinya: pembatas antar ruang, jalur air sebagai pengarah, kolam pantul, sebagai elemen ruang (water bodies), maupun memasok kebutuhan air untuk vegetasi lansekap. Hal ini juga didukung fakta bahwa tata air yang berada di Indarung 1 saat ini justru mengancam keberadaan pabrik tua itu karena mengakibatkan erosi dan korosi pada struktur fisik pabrik.
Secara keseluruhan, Unit 2 mengusulkan beberapa hal, antara lain:
1. Menjadikan bagian utara lahan (diantara bekas tempat pemandian dan gudang/ gallery) sebagai kawasan parkir dan gerbang masuk
2. Mengaktifkan kembali kolam renang dan ’club house’ di bagian utara/ paling tinggi kawasan
3. Mengusulkan sebagian besar cerukan dalam kawasan pabrik tua (yang berbahaya dan sulit diakses) untuk diisi dengan air sehingga menjadi atraksi tersendiri
4. Menjadikan lahan parkir di samping gallery sebagai instalasi water treatment
5. Mengusulkan beberapa fungsi spesifik seperti: community park, banquet hall, scuplture park, dan botanical garden.
Meskipun menekankan upaya pada penataan alur air secara keseluruhan, namun rancangan penataan ulang yang dibuat Unit 2 secara khusus berkonsentrasi pada 3 area khusus: (1) lahan parkir di sebelah gallery, dan (2) batas selatan pabrik, yang terletak pada kontur terendah dari Indarung 1 (dan terletak pada ’tebing’), dan (3) dua buah slurry basin pada bagian ’gerbang’ pabrik. Rancangan ketiga area tersebut dimaksudkan sebagai atraksi kawasan dan juga ilustrasi pengembangan dari konsep prinsip unit ini.
Unit 3: Suwardana Winata
Unit 3 berkonsentrasi pada struktur pabrik tua sebagai museum ketimbang mengolah kawasan secara keseluruhan. Rancangan yang dikembangkan oleh unit ini adalah bagaimana pengunjung dapat menjelajah pabrik bersejarah ini sambil mendapatkan informasi yang sesuai (dan atraktif).
Unit ini berupaya mengembangkan dan menghubungkan ruang-ruang yang ada di dalam struktur pabrik tua untuk digunakan kembali sebagai sirkulasi, cafe, restauran, atau ruang pamer. Keunggulan dari metode ini adalah dapat menghasilkan ruang-ruang yang unik, menarik dan tidak terduga.
Secara keseluruhan Unit 3 mengusulkan untuk menutup keseluruhan struktur pabrik tua dengan struktur atap yang sama sekali baru dan kontras dengan struktur lama pabrik. Upaya ’membingkai’ ini untuk menampilkan keistimewaan pabrik tua secara visual.
Unit 4: Widjaja Martokusumo
Unit 4 juga menekankan pengembangan rancangan sirkulasi dan ruang pada sirkulasi (sebagai definisi museum) di dalam struktur pabrik tua. Unit 4 mengidentifikasi ruang pada struktur pabrik dapat dibagi menjadi 4 lapisan (layer) yang terpisah berdasarkan pencapaian dan tema yang disuguhkan. Sebagai catatan penting, museum semen ini direncanakan dapat diakses pengunjung baik siang hari maupun malam hari sehingga pengunjung mendapatkan pengalaman yang berbeda.
Keempat lapisan yang dirancang menawarkan pengunjung untuk dapat: (1) mendapat informasi mengenai proses pembuatan semen pada level paling bawah, (2) dan menjelajah ruang-ruang di antara kiln, (3) yang diakses dari ruang teras terbuka sebagai lantai tempat pengunjung masuk (entry level), atau dapat langsung menuju (4) roof garden dan observation deck, yaitu pelataran terbuka di bagian atas pabrik yang digunakan sebagai taman maupun pelataran untuk melihat pemandangan.
Selain itu, unit ini juga mengusulkan beberapa fasilitas/ lahan di luar kawasan inti (pabrik tua) untuk dijadikan area penunjang utama:
Fasilitas kolam renang dan ’club house’ diusulkan untuk diaktifkan kembali, karena selain memiliki nilai historis, lebih mudah dan efisien bila kita hanya cukup memperbaiki fasilitas yang relatif sudah ada tersebut ketimbang merobohkan dan mendirikan fasilitas baru.
Lahan terbuka di bagian utara kawasan pabrik tua diusulkan untuk dijadikan auditorium terbuka tempat berlangsungnya pertunjukkan kesenian maupun acara-acara lain. Di sebelah selatan dari fasilitas auditorium ini diusulkan untuk dijadikan taman, sebuah contemplation garden. Taman ini dirancang sebagai taman yang hening untuk beristirahat atau bermeditasi, tempat yang merupakan perkecualian di luar berbagai atraksi dan hiburan umum yang ada di kawasan ini.
Lahan dan struktur tua di bagian paling selatan pabrik juga diusulkan dijadikan outdoor cafe dan restauran. Usul ini dilatarkan pada posisi pelataran terbuka di bagian ini yang memiliki pemandangan paling baik ke arah Padang dan area sekitar Indarung.
Unit 5: Eko Prawoto
Unit 5 menjajaki penugasan revitalisasi kawasan ini dengan mengambil pendekatan untuk memasukkan elemen-elemen alam dan keterlibatan dan aktivitas kriya (kerajinan) dari masyarakat setempat sebanyak mungkin pada pembangunan dan pengembangan kawasan ini. Maka dari itu, secara keseluruhan unit ini tidak menawarkan penataan kawasan ini secara ketat kecuali dalam soal cara bagaimana menghadirkan elemen baru/ perbaikan fisik pada kawasan pabrik tua ini.
Unit ini berhasil menghadirkan banyak visualisasi bagaimana pelataran, akses, maupun bahan penutup/ pelapis dinding di tengah pabrik tua dapat dibuat dan dikembangkan dengan material bambu dengan teknik anyaman atau ikatan yang umum dilakukan masyarakat di Indarung atau Sumatera Barat.
Unit 6: Suditya Sinha & Amritha Ballal
Unit 6 melakukan pendekatan yang menyeluruh untuk dapat memberikan usulan besar bagi pengembangan kawasan pabrik tua ini. Unit ini bekerja keras untuk mendapatkan gambaran yang luas sehingga mampu menghasilkan ragam usulan program dan kemungkinan pengembangan masa depan kawasan ini.
Empat jenis program dapat dikembangkan secara terpadu pada Indarung 1, terbagi menjadi kelompok kegiatan: (1) alam dan rekreasi/ nature and recreation (mencakup fasilitas: area bermain, cafe, penginapan, dan area pertunjukkan), (2) kebudayaan-kesenian/ culture and activation (mencakup fasilitas: penginapan, ruang pertemuan, dan studio/ bengkel kerja, (3) penelitian dan pendidikan/ research and education (mencakup fasilitas: ruang seminar, lounge, perpustakaan, laboratorium, ruang komputer), dan (4) sejarah dan ingatan/ history and memory (mencakup fasilitas: galeri peringatan, galeri sejarah, ruang pamer).
Berangkat dari ragam program dan fasilitas yang mungkin dibutuhkan oleh pengembangan, unit ini melakukan inventarisasi dan kajian ruang yang sangat mendetail (mencakup parameter fisik, persepsi inderawi, pengalaman ingatan dan sejarah) untuk menemukan ruang-ruang yang ada di dalam kawasan pabrik berikut potensinya untuk dikembangkan mendukung program dan fasilitas yang akan ditentukan nanti. Maka dari itu, hasil penting dari usulan kelompok ini bukanlah merupakan sebuah masterplan yang kaku, namun berupa daftar ruang-ruang yang berada dalam kawasan pabrik serta daftar potensinya yang kaya. Daftar ini akan sangat berguna dalam menentukan keputusan pengembangan rencana fasilitas permanen maupun bagi perencanaan acara atau aktivitas temporer.
Unit 7: Moulshri Joshi & Manoj Mathur
Unit ini melakukan pendekatan perencanaan spesifik dari kaca mata anak-anak. Proses perencanaan melibatkan persepsi anak-anak penghuni permukiman di Indarung terhadap kawasan pabrik tua, dan memperkuat persepsi tersebut menjadi imajinasi pengembangan kawasan ini. Tujuannya adalah untuk mendapatkan sebuah kawasan yang ramah dan akomodatif bagi imajinasi dan keberadaan anak-anak.
Program yang dibayangkan dalam skenario unit ini adalah berupa museum tentang proses pembuatan semen dan fasilitas pendidikan yang kaya informasi sekaligus menghibur bagi anak-anak. Tema-tema dikembangkan sejalan dengan ide yang didapat dari survei sehingga terhindar dari tema-tema yang didiktekan oleh orang-orang dewasa yang belum tentu jujur dan sesuai dengan aspirasi anak-anak.
Perencanaan induk yang diusulkan unit ini mencakup pula akses, penentuan area dan program, fasilitas pendukung, dan perihal aksesibilitas bagi anak-anak dan penyandang cacat.
Unit 8: Sangyun Lee
Unit ini melakukan survei dan evaluasi terhadap kondisi dan situasi pabrik tua hingga menghasilkan sebuah daftar akan potensi ruang-ruang di dalam pabrik tersebut. Kajian ini serupa dengan unit 6 namun dengan penekanan pada karakter fisiknya sehingga betul-betul mendapatkan pemetaan yang kaya akan situasi dan kualitas fisik (dan visual) pada keseluruhan kawasan pabrik tua. Selain itu, unit ini juga melakukan survey yang amat mendetail mengenai tipe-tipe struktur/ bangunan dan tipe-tipe jalan (akses manusia) yang ada.
Survei yang teliti dan kaya ini akhirnya menghasilkan usulan 5 jenis program yang ditempatkan di dalam ruang-ruang tersebut. Seluruh kawasan ini dianalogikan sebagaimana sebuah kebun binatang yang terdiri dari banyak wahana/ atraksi, yang dapat diganti-ganti sesuai dengan tema yang dikehendaki. Kelima program tersebut terdiri dari: (1) koleksi permanen jenis 1 (museum), (2) koleksi permanen jenis 2 (museum), (3) koleksi non permanen/ temporer (museum), (4) fasilitas statis (cafe, dek pemandangan), dan (5) fasilitas dinamis (jalur sepeda, jogging, sirkulasi, taman). Keseluruhan program tersebut dirangkai dalam sebuah jalur sirkulasi yang tidak linear, sehingga pengunjung dapat menikmati keseluruhan wahana/ atraksi tanpa diatur oleh alur sirkulasi seperti pada umumnya museum.
Unit 9: Achmad Tardiyana
Unit 9 mengusulkan untuk membagi kawasan pabrik tua menjadi 2 bagian: bagian inti dan bagian pendukung. Bagian inti merupakan bagian pabrik tua yang harus dipertahankan dan dikembangkan sebagai museum in-situ. Intervensi pembangunan yang dilakukan di bagian inti harus mendukung fungsinya sebagai museum; yaitu: mendukung sirkulasi pengunjung, mendukung komunikasi pada pengunjung dalam hal proses produksi semen dan informasi mengenai sejarah PT Semen Padang dan industri di Sumatera Barat. Otentisitas di bagian ini sebisa mungkin dipertahankan.
Secara khusus unit ini mengusulkan sebuah konsep museum yang interaktif, yaitu dengan mengajak pengunjung museum ke alur proses pembuatan semen secara langsung. Konsekuensi dari konsep ini adalah menuntut fasilitas-fasilitas dan elemen-elemen pabrik bekas untuk dapat dilalui oleh pengunjung.
Bagian pendukung adalah bangunan dan infrastruktur di luar bagian pabrik tua, seperti gudang, kantor, ruang terbuka, parker, dan berbagai fasilitas lain. Bagian ini dapat dikembangkan sebagai fasilitas rekreasi dan pendukung bagi bagian inti. Unit ini banyak menampilkan visualisasi pengembangan area bagian pendukung ini.
rendyaditya 2:43 am on October 3, 2009 Permalink |
dear all,
FYI last night i managed to make a phone call to Nadya, one of the student of Bung Hatta University. And she told me that our padang students and friends from the workshop is in a fine condition. And i asked her to keep in touch, because there is no clear news about Mr. Eko yet. She also said that all telkomsel signal is not recovered yet (i’m not sure about internet) so we can contact them through XL and flexy phone.
Ko cung, i would like to help the coordination with padang’s students (through nadya or others ) in creating a small team to distribute the aid once the bank account is ready. While waiting response from Mr. Eko,I think it’s the best way to do it, since they had a better data about the current situation. Please share your response.Thank you
ren